Ulul-albab

Ulul albab community
 
IndeksPortailGalleryFAQPencarianPendaftaranAnggotaGroupLogin

Share | 
 

 Buat apa mencari uang??

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Der Fuehrer



Jumlah posting : 30
Registration date : 23.08.07

PostSubyek: Buat apa mencari uang??   Wed Dec 26, 2007 8:43 pm

Tampang bingung. Itulah gambaran yang bisa dilukiskan di wajah seorang bocah
6 tahun, saat melihat lalu-lalangnya kendaraan di jalan. Bocah itu seakan
tidak memperdulikan hilir mudik orang-orang yang melaluinya bahkan ada
beberapa orang yang hampir menendangnya. Dia pun seakan tidak senang saat
beberapa orang yang lewat memasukan uang receh ke dalam kaleng yang sengaja
di simpan di depannya.

"Sudah dapat berapa Ujang?" sapa seorang wanita umur 40 tahunan yang
mengagetkan si Ujang. Si Ujang menengok wanita yang nampak lebih tua dari
umur sebenarnya. Wanita itu tiada lain adalah ibunya yang sama-sama membuka
praktek mengemis sekitar 100-200 meter dari tempat si Ujang mengemis.

"Nggak tahu Mak, hitung aja sendiri," jawab si Ujang sambil melihat kaleng
yang ada di depannya. Tanpa menunggu wanita yang dipanggil Emak itu
mengambil kaleng yang ada di depan si Ujang. Kemudian isi kaleng tersebut
ditumpahkan ke atas kertas koran yang menjadi alas mereka duduk.

"Lumayan Ujang, bisa membeli nasi malam ini. Sisanya buat membeli kupat tahu
besok pagi." Kata si Emak sambil tersenyum lebar, karena rezeki malam itu
lebih banyak dari hari-hari biasanya.

"MakˇÄ" kata si Ujang tanpa menghiraukan ucapan ibunya, "koq orang lain punya
mobil? Kenapa Emak nggak punya?" Tanya si Ujang sambil menatap wajah ibunya.

"Ah, si Ujang mah, aya-aya wae, boro-boro punya mobil, saung aja kita mah
nggak punya." kata si Emak sambil tersenyum. Si Emak kemudian membungkus
uang yang telah dipisahkannya untuk besok dengan sapu tangan yang sudah
lusuh dan dekil.

"Iya, tapi kenapa Mak?" Rupanya jawaban si Emak tidak memuaskan si Ujang.

"Ujang ˇÄ. UjangˇÄ." kata si Emak sambil tersenyum. "Kita tidak punya uang
banyak untuk membeli mobil." kata si Emak mencoba menjelaskan. Tetapi
nampaknya si Ujang belum puas juga,

"Kenapa kita tidak punya uang banyak Mak?" tanyanya sambil melirik si Emak.

"Kitakan cuma pengemis, kalau orang lain mah kerja kantoran jadi uangnya
banyak." kata si Emak yang nampak akan beranjak. Seperti biasa sehabis
matahari tenggelam si Emak membeli nasi dengan porsi agak banyak dengan 3
potong tempe atau tahu. Satu potong untuk si Emak sedangkan 2 potong untuk
si Ujang anak semata wayangnya.

Sekembali membeli nasi, si Ujang masih menyimpan pertanyaan. Raut wajah si
Ujang masih nampak bingung.

"Ada apa lagi Ujang?" kata si Emak sambil menyeka keringat di keningnya.

"Kenapa Emak nggak kerja kantoran saja?" tanya si Ujang dengan polosnya.

"Siapa yang mau ngasih kerjaan ke Emak, Emak mah orang bodoh, tidak
sekolah." Jawab si Emak sambil membuka bungkusan yang dibawanya.

"Udah ˇÄ, sekarang makan dulu mumpung masih hangat!" Kata si Emak sambil
mendekatkan nasi ke depan si Ujang. Si Ujang yang memang sudah lapar
langsung menyantap makanan yang ada di depannya.

"Kenapa Emak nggak sekolah?" tanya si Ujang sambil mengunyah nasi plus
tempe.

"Orang tua Emak nggak punya uang, jadi Emak nggak bisa sekolah."

"Ujang bakal sekolah nggak?" kata si Ujang sambil menatap mata si Emak penuh
harap.

Emak agak bingung menjawab pertanyaan si Ujang. Lamunan Emak menerawang
mengingat kembali mendiang suaminya, yang telah mendahuluinya. Mata si Emak
mulai berkaca-kaca. Karena gelapnya malam, si Ujang tidak melihat butiran
bening yang mulai menuruni pipi wanita yang dipanggil Emak tersebut. Karena
tak kunjung dijawab, si Ujang bertanya lagi

"Kalau Ujang nggak sekolah, nanti kayak Emak lagi dong. Iya kan Mak?"

Pertanyaan Ujang makin menyesakan dada si Emak. Siapa yang ingin punya anak
menjadi pengemis, tetapi si Emak bingung harus berbuat apa. Si Emak cuma
melanjutkan menghabiskan nasi sambil menahan tangisnya. Akhirnya si Ujang
pun diam sambil mengunyah nasi yang tinggal sedikit lagi. Deru mesin mobil
menemani dua insan di pinggir jalan yang sedang menikmati rezeki Allah SWT
yang mereka dapatkan. Diterangi lampu jalan mereka pun mulai berbenah untuk
merebahkan diri. Di kepala si Ujang masih penuh tanda tanya, mau jadi apa
dia kelak. Apakah akan sama seperti Emaknya saat ini?

Marilah kita melihat kebelakang, instropeksi diri sejauh mana kapasitas
ruhiah kita. Marilah kita teliti niat kita dalam mencari rezeki, sudahkah
niat kita ikhlas? Sudahkah niat kita hanya mencari keridhaan Allah, sudahkah
niat kita mencari rezeki untuk menunaikan kewajiban menafkahi keluarga?
Sudahkan niat kita mencari rezeki untuk menegakkan kalimat tauhid di muka
bumi? Mungkin saja, kita mencari rezeki agar mendapatkan penghormatan dari
orang lain. Mungkin saja, kita mencari rezeki untuk bersikap sombong
terhadap orang lain? Mungkin saja, kita mencari rezeki untuk melakukan
kemaksiatan? Marilah kita berlindung kepada Allah dari perbuatan seperti
ini.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Buat apa mencari uang??
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ulul-albab :: Kategori (Klik Disini) :: Tausyiah-
Navigasi: