Ulul-albab

Ulul albab community
 
IndeksPortailGalleryFAQPencarianPendaftaranAnggotaGroupLogin

Share | 
 

 Krisis Ekonomi Kapitalis : Siklus yang Berulang (2)

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Muhammad Al-Fatiih



Jumlah posting : 32
Location : Keputih 3A
Registration date : 03.09.07

PostSubyek: Krisis Ekonomi Kapitalis : Siklus yang Berulang (2)   Wed Sep 26, 2007 1:16 pm

Sementara itu, di lantai bursa setiap hari beredar uang hingga Rp 3 triliun. Kapitalisasi bursa saham di Indonesia memang terus meningkat. Bila tahun 2005 lantai bursa menyumbang 36% dari PDB, tahun 2006/2007 ini, bursa saham Indonesia menyumbang 42 % PDB atau sekitar Rp 1.800 triliun. Tapi meski begitu, keadaan ini tidak menggembirakan Wapres Jusuf Kalla karena perfomance bursa saham Indonesia yang katanya termasuk paling bagus di dunia, tidak otomatis mempengaruhi sektor riil. Bila pasar modal tidak dapat menggerakkan sektor riil, maka pasar modal tidak ada artinya, cetus Jusuf Kalla di depan Indonesia Investor Forum di Jakarta akhir Mei lalu. Karenanya ia menghimbau agar bursa saham memperhatikan sektor riil sebuah himbauan yang sia-sia karena keduanya memang tidak berhubungan.
Apakah bisa dikatakan bahwa sistem ekonomi kapitalis itu sistem yang rapuh Ustadz?
Ya, sangat rapuh. Bukan hanya rapuh, sistem ekonomi kapitalis juga bersifat self-destructive (menghancurkan diri sendiri). Inilah watak dasar dari sistem sekuler apapun. Dia tidak akan pernah bisa menyelesaikan persoalan manusia secara menyeluruh dan secara benar. Alih-alih bisa menyelesaikan persoalan, sistem ekonomi kapitalis secara faktual justru telah menimbulkan berbagai persoalan yang bukan alang kepalang di berbagai belahan dunia. Kemiskinan dan kesenjangan kaya miskin, kerusakan lingkungan, proses dehumisasi, bahkan perang dan penindasan ada di mana-mana.
Faktor apa saja yang menyebabkan kerapuhan itu? Bisa dijelaskan Ustadz?
Banyak. Tapi saya ingin menyebut dua faktor utama. Pertama, persoalan mata uang, dimana nilai mata uang suatu negara saat ini pasti terikat kepada mata uang negara lain (misalnya rupiah terhadap US dollar), tidak pada dirinya sendiri, sedemikian sehingga nilainya tidak pernah stabil, dan bila nilai mata uang tertentu bergejolak, pasti akan mempengaruhi kestabilan mata uang tersebut. Dan bila mata uang tidak stabil, maka kegiatan ekonomi secara keseluruhan juga tidak akan pernah stabil karena mata uang ibarat kereta adalah lokomotif penggerak gerbong kegiatan ekonomi. Kedua, kenyataan bahwa uang tidak lagi dijadikan sebagai alat tukar saja, tapi juga sebagai komoditi yang diperdagangkan (dalam bursa valuta asing), dijadikan komoditas judi (dalam bursa saham dan kegiatan sejenis yang oleh Allaise Maurice disebut a big casino) dan ditarik keuntungan (interest) alias bunga atau riba dari setiap transaksi peminjaman atau penyimpanan uang.
Dengan kata lain, yang menjadi pemicu terjadinya krisis ekonomi adalah sektor non riil atau moneter, yang memang dikenal sebagai sektor penuh spekulasi. Kekacauan di sektor ini menyebabkan kekacauan di sektor riil (produksi, perdagangan dan jasa). Harga-harga barang dan jasa naik bukan karena hukum permintaan dan penawaran (supply and demand), tapi karena suku bunga perbankan naik dan terjadinya depresiasi rupiah terhadap dollar AS.
Dari pengalaman krisis tahun 1997 lalu, jelas terbukti bahwa bunga bank memang selalu akan memberikan tekanan kepada kegiatan ekonomi. Maka dengan sendirinya jelas pula bahwa sistem perbankan dengan bunga sangat berpengaruh terhadap bergairah tidaknya, serta sehat tidaknya kegiatan ekonomi masyarakat. Riba memang akan selalu menjadi sumber labilitas ekonomi. Tatanan ekonomi masyarakat yang ditopang dengan sistem ribawi tidak akan pernah betul-betul sehat.
Kalaupun suatu ketika tampak sehat, ia sesungguhnya sedang menuju ke satu titik kolaps setelah mencapai puncaknya dari sebuah siklus krisis ekonomi, dimana kemajuan ekonomi yang dialami terus menerus selama beberapa tahun akan berbalik dan terhenti sebagaimana sudah disinggung di muka.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Krisis Ekonomi Kapitalis : Siklus yang Berulang (2)
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Ulul-albab :: Kategori (Klik Disini) :: Ekonomi Islam-
Navigasi: